Terlahir dari sepasang-pendidik-yang-sangat-mengagumkan, anak ke dua dari lima bersaudara. Sebagai laki-laki tertua, ada sebuah kesadaran otomatis bahwasannya pribadi ini juga mempunyai tanggung jawab terhadap sekandungnya. Itulah yang juga kurasakan saat ini.
Adik terkecil sekarang berusia kira-kira ... tahun [diisi sendiri ya :)], lahir Desember 2007 silam. Berdasarkan kalkulasi matematis dengan asumsi ceteris paribus, kelak ketika adik terkecil berusia 15 tahun, Babe dan Bundo sudah usai masa pengabdiannya sebagai pendidik dan pengajar profesional. Mencoba membuka kembali catatan perjalanan sekian tahun ke belakang, 15 tahun adalah usia SMP, pintu gerbang masa peralihan dari dunia anak-anak menuju dunia remaja. Masa-masa pencarian jati diri berawal dari situ. Tentunya masa itu diiringi dengan kelabilan emosi, baik menyangkut pikiran maupun hati. Support optimal tentunya sangat diperlukan untuk menjaga pribadi agar selalu istiqomah di jalan yang seharusnya.
Lain lagi dengan adik ke satu dan ke dua. Di saat Babe dan Bundo mengakhiri masa pengabdiannya sebagai pendidik, mereka berdua sedang duduk di bangku kuliah dengan sejuta angan, cita-cita, dan idealismenya. Masa ini adalah pintu gerbang awal bagi sebuah pribadi untuk mempersiapkan dirinya dengan matang sebelum terjun di tengah masyarakat nantinya. Banyak sekali harapan indah yang tertanam di benak pastinya. Tentang masa depan karir, keluarga baru, dan terkadang sampai ke anak-cucu. Jika tidak mendapat bimbingan intensif, seseorang bisa tergelincir di jurang yang terjal karena banyaknya godaan yang siap menghadang: angin kencang dan jalan yang licin. Memberikan pemahaman tentang idealisme juga penting. Bagaimana cara agar idealisme yang tertanam tidak terlalu kolot untuk diekspresikan, melainkan cukup digunakan sebagai landasan dalam berkehidupan saja, syukur-syukur bisa terlaksana dengan tanpa memenjara hak-hak kemanusiaan yang seharusnya mereka punya.
Pesan utama dari kedua ilustrasi di atas adalah
soal dukungan dan motivasi. Dukungan dari semua lini akan sangat bermanfaat bagi kenyamanan dan kestabilan sebuah individu pada kedua masa tersebut: dukungan moral, mental, spiritual, dandana (:-D). Melihat situasi kekinian, sepertinya tantangan ke depan relatif lebih sulit. Akan sangat membahagiakan tentunya melihat senyum bangga orang tua atas kesuksesan kelima putera-puterinya. Semoga aku, mereka, kami, mampu menghadapi bersama. Aamiin.
Begitulah kira-kira sekelumit kesadaran sebagai laki-laki tertua akan tanggung jawab terhadap sekandungnya. Mau tidak mau ke depan diri ini adalah wakil/pemimpin keluarga, menggantikan sosok Babe yang sebenarnya sangat tak terganti. Belum lagi besok -jika masih dikaruniai nikmat kesempatan- diri ini menjadi pemimpin bagi keluarga barunya, imam dari istri dan anak-anaknya.
Terlalu rumit memang jika dipikirkan. Namun saya pandang pikiran-pikiran yang muncul ini sebagai sebuah seni hidup, bagaimana kita belajar berangan, membayangkan indahnya masa depan. Dengan demikian, pikiran-pikiran ini bisa menciptakan sebuah langkah antisipatif, mempersiapkan segala sesuatunya untuk masa depan.
Aku, seorang pembelajar yang ingin selalu berusaha menikmati dan memaknai setiap peristiwa, setiap kejadian. Lebih jauh, Aku, sesuai kebijakan berpikir Anda :)
[ Lanjut Baca.. ]
Adik terkecil sekarang berusia kira-kira ... tahun [diisi sendiri ya :)], lahir Desember 2007 silam. Berdasarkan kalkulasi matematis dengan asumsi ceteris paribus, kelak ketika adik terkecil berusia 15 tahun, Babe dan Bundo sudah usai masa pengabdiannya sebagai pendidik dan pengajar profesional. Mencoba membuka kembali catatan perjalanan sekian tahun ke belakang, 15 tahun adalah usia SMP, pintu gerbang masa peralihan dari dunia anak-anak menuju dunia remaja. Masa-masa pencarian jati diri berawal dari situ. Tentunya masa itu diiringi dengan kelabilan emosi, baik menyangkut pikiran maupun hati. Support optimal tentunya sangat diperlukan untuk menjaga pribadi agar selalu istiqomah di jalan yang seharusnya.
Lain lagi dengan adik ke satu dan ke dua. Di saat Babe dan Bundo mengakhiri masa pengabdiannya sebagai pendidik, mereka berdua sedang duduk di bangku kuliah dengan sejuta angan, cita-cita, dan idealismenya. Masa ini adalah pintu gerbang awal bagi sebuah pribadi untuk mempersiapkan dirinya dengan matang sebelum terjun di tengah masyarakat nantinya. Banyak sekali harapan indah yang tertanam di benak pastinya. Tentang masa depan karir, keluarga baru, dan terkadang sampai ke anak-cucu. Jika tidak mendapat bimbingan intensif, seseorang bisa tergelincir di jurang yang terjal karena banyaknya godaan yang siap menghadang: angin kencang dan jalan yang licin. Memberikan pemahaman tentang idealisme juga penting. Bagaimana cara agar idealisme yang tertanam tidak terlalu kolot untuk diekspresikan, melainkan cukup digunakan sebagai landasan dalam berkehidupan saja, syukur-syukur bisa terlaksana dengan tanpa memenjara hak-hak kemanusiaan yang seharusnya mereka punya.
Pesan utama dari kedua ilustrasi di atas adalah
soal dukungan dan motivasi. Dukungan dari semua lini akan sangat bermanfaat bagi kenyamanan dan kestabilan sebuah individu pada kedua masa tersebut: dukungan moral, mental, spiritual, dan
Begitulah kira-kira sekelumit kesadaran sebagai laki-laki tertua akan tanggung jawab terhadap sekandungnya. Mau tidak mau ke depan diri ini adalah wakil/pemimpin keluarga, menggantikan sosok Babe yang sebenarnya sangat tak terganti. Belum lagi besok -jika masih dikaruniai nikmat kesempatan- diri ini menjadi pemimpin bagi keluarga barunya, imam dari istri dan anak-anaknya.
Terlalu rumit memang jika dipikirkan. Namun saya pandang pikiran-pikiran yang muncul ini sebagai sebuah seni hidup, bagaimana kita belajar berangan, membayangkan indahnya masa depan. Dengan demikian, pikiran-pikiran ini bisa menciptakan sebuah langkah antisipatif, mempersiapkan segala sesuatunya untuk masa depan.
Aku, seorang pembelajar yang ingin selalu berusaha menikmati dan memaknai setiap peristiwa, setiap kejadian. Lebih jauh, Aku, sesuai kebijakan berpikir Anda :)
* * *
PERSONAL BIODATA
Nama: Aku
TTL: Magelang, November 1989
Gender: Laki-laki
Hobi: Olahraga, khususnya Futsal dan Sepak Bola
Cita-cita: selalu bingung jika ditanya hal ini..haha.. let it flow aja, yang penting muaranya baik
Motto: khoyrunnas anfa'uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya terhadap orang lain.
FORMAL EDUCATION
TK PGRI 1 GRABAG, Magelang (1994-1996)
SD NEGERI GRABAG 1, Magelang (1996-2002)
SMP NEGERI 1 GRABAG, Magelang (2002-2005)
SMA NEGERI 1 MAGELANG, Ilmu Alam, Magelang (2005-2008)
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA, Administrasi Perpajakan, Bintaro (2008-2011)
-menanti kejelasan dalam sebuah ketidakjelasan-
