2 Februari 2012
'Aku!'
satu kata yang berdiri bebas,
menunjuk sebuah dimensi kehidupan yang lugas.
'Harus!'
tegas terhempas,
membuat semua opini kandas.
'Biarlah!'
segala tak teracuh,
nilai rasa merosot runtuh,
humanisme kian menjauh.
'Saja!'
memutus rangkai kata,
tenggelam simpati jiwa.
'Amarah!'
membakar tak bersisa,
hancur berkeping sebuah logika.
'Pasti!'
optimisme menjulang kuat,
yakin 'aku' ini hebat.
'Bisa!'
gelora semangat mengundang,
tak peduli keras karang menghadang.
'Mampu!'
mimpi tak terelak,
asa semakin bergejolak.
'Kejar!', 'Hadapi!', 'Selesaikan!'.
segala menjadi berapi, tak hirau proyeksi diri,
di lain hati.
'Aku!'.. 'Aku!'.. 'Aku!'..
berkoar memberangus jiwa,
tak kenal indah bersama.
Sekali lagi,
'Aku!', 'Harus!', 'Biarlah!', 'Saja!',
'Pasti!', 'Bisa!', 'Mampu!', 'Kejar!', 'Hadapi!', 'Selesaikan!'.
* * *
Sebuah gambaran sederhana tentang fenomena egosentris masif. Fenomena ini biasanya terjadi pada orang-orang yang sedang berada pada tahap pencarian identitas diri, terkadang juga sebagai sebuah ekspresi kejenuhan dalam sebuah pergaulan.
Ego memang ada di setiap jiwa kita, hanya kadarnya saja yang berbeda. Ego tidaklah baik jika terlalu ditonjolkan di tengah pergaulan tempat berkumpulnya sejumlah kepentingan dan perbedaan. Hal tersebut dapat menyebabkan percikan konflik yang bermula dari ketersinggungan antar individu. Meskipun demikian, ego ini ada sisi positifnya. Ketika kita punya suatu keinginan, ia mampu menjadi peninggi, pendorong, pemacu, penyemangat, dan penyugesti. Menumbuhkan sikap percaya bahwa kita bisa, dan percaya bahwa kita mampu.
Hanya kebijaksanaan diri lah yang mampu memanage seberapa besar ego tersebut harus ditonjolkan, dan menempatkan ego tersebut di tempat terbaik, tempat yang paling tepat.
Hanya kebijaksanaan diri lah yang mampu memanage seberapa besar ego tersebut harus ditonjolkan, dan menempatkan ego tersebut di tempat terbaik, tempat yang paling tepat.
-di tengah rata rintik hujan-

0 komentar:
Posting Komentar