SEPAK BOLA, "a Lessons of Life"

26 Januari 2012

"Bola adalah hiburan seantero rakyat, sayang sekali bila dijadikan makanan birokrat"

Taken from Google

Kalimat tersebut pernah saya ungkapkan melalui salah satu media social network. Gatal rasanya ketika melihat kericuhan di PSSI. Kemurnian sepak bola yang seharusnya menghibur menjadi ternoda ketika politisasi sudah mulai merasukinya. Konflik kepentingan, tentang kekuasaan, egoisme, dan gengsi.

Sebenarnya masalah yang mendasari sangat sederhana, yakni perbedaan idealisme tentang konsep profesionalisme dalam sepak bola. Namun,
entah mengapa perbedaan tersebut sangat ditonjolkan oleh masing-masing kubu yang berseteru, bukannya malah dileburkan agar menjadi satu, satu yang terharmonisasi. Padahal menurut saya, semuanya berangkat dari semangat yang sama, yakni untuk memajukan persepakbolaan Indonesia.

Taken from Google

Kadangkala saya -sebagai penikmat bola- merasa heran, mengapa sebuah perbedaan yang menurut saya sangat simpel untuk diselesaikan, malah menggelinding liar bak bola panas yang sangat lebay. Jika dilihat dari profil kubu yang berseteru, rasa-rasanya kita tidak berhak mengatakan mereka itu bodoh. Siapa yang tidak mengenal sosok Nurdin Halid, seorang politisi dari partai Golkar. Siapa pula yang tidak mengenal sosok Arifin Panigoro, konglomerat minyak dan batu bara yang pernah duduk di kursi DPR di bawah bendera PDIP. Namun inilah kenyataannya, masalah tak kunjung usai dan mulai menghadirkan dampak negatif, baik dari sisi kompetisinya maupun nasib pemain bola, lebih-lebih pemain langganan timnas Indonesia.

Taken from Google
Beginilah kira-kira gambaran jika sepak bola diisi orang-orang politik. Jiwa mereka tak sesuai di sini. Kita lihat saja di Eropa. Orang-orang yang duduk di komisi bola rata-rata adalah mantan pesepak bola profesional, yang sudah mengerti seluk beluk sepak bola. Mengerti bagaimana sebuah kompetisi bisa berjalan baik, mengerti apa yang dibutuhkan para pemain, dan mengerti bagaimana mengemas sepak bola menjadi sebuah tontonan yang menarik di samping esensinya sebagai sarana untuk mengolah kesehatan raga. Semoga saja masalah ini kunjung berakhir, karena bagaimanapun juga sepak bola harus tetap hidup dan berkembang di negeri ini, sebagai salah satu media pemersatu bangsa dengan keanekaragaman budaya di dalamnya.

* * *

"Sepak bola: kawan, sahabat, dan guru"

Sudah lebih dari 22 tahun saya menghirup segarnya udara negeri ini. Beragam peristiwa sudah saya jalani berikut segala dinamisasinya. Tentang cita-cita, syukur, semangat, perjuangan tanpa henti, keluarga, cinta, dan sepak bola. Begitulah sekelumit esensi hidup yang (sementara ini) bisa saya rangkai. Dan sepak bola, saya sadari ternyata mampu merangkum seluruh esensi hidup tersebut.

Ya, sepak bola sudah menjadi teman hidup saya sedari kecil. Sepulang sekolah, hampir tak ada aktivitas lain selain bermain bola. Entah mengapa selalu ada sebuah kenikmatan tersendiri ketika memainkan si kulit bundar bersama kawan-kawan. Panas dan hujan tak pernah mampu menghalangi kami. Meskipun terlahir bukan dari keluarga penghobi olahraga lebih-lebih sepak bola, saya sangat mencintai olahraga ini. Bagaikan seorang lelaki mencintai (calon) istrinya, begitulah kira-kira gairah yang saya rasakan dalam bermain bola.

Taken from Google
Bersyukur, tak ada cela sepertinya saya mengambil keputusan untuk menghobi bola. Sepak bola mampu menjadi bahasa universal, pemersatu seluruh elemen masyarakat. Bukti konkret dapat kita lihat ketika timnas Indonesia berlaga. Suporter dari klub-klub liga di Indonesia berdiri berdampingan dan meneriakkan 1 suara, "Garuda di dadaku". Padahal sudah menjadi rahasia umum, rivalitas kompetisi antar klub bola selalu merembet ke ranah pendukungnya. Tak jarang terjadi percikan konflik antar mereka, apakah itu yel-yel saling mencela hingga taraf yang paling parah; tawuran antar suporter.

Taken from Google
Akan tetapi demikianlah, pada akhirnya sepak bola selalu mampu mengajarkan kepada penikmatnya tentang arti nasionalisme seperti yang tersimpulkan dalam semboyan Pancasila: "Bhinneka Tunggal Ika".

Taken from Google
Dahulu semasa masih kuliah, saya pernah mendapatkan mata kuliah pengembangan kepribadian, namanya KSPK, singkatan dari Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian. Di mata kuliah itu kami kami sering mengadakan diskusi kelompok, bertukar pendapat tentang kehidupan; membahas nilai-nilai kehidupan, tipe-tipe manusia, problem solving, dan lain-lain. Pernah suatu ketika, menjelang kuliah KSPK, saya merenungi tentang nilai-nilai kehidupan dalam sepak bola. Dari perenungan itu, saya bisa mengambil setidaknya lima nilai kehidupan dari permainan bola, sebagai berikut.
  • nilai ke-1. Ketika Anda berposisi sebagai penyerang, Anda diharapkan membantu pertahanan sewaktu diserang. Ketika Anda berposisi sebagai pemain bertahan, Anda tetap diperbolehkan untuk mencetak gol. Satu poin nilai keluwesan dan fleksibilitas telah kita pelajari.
  • nilai ke-2. Pada saat teman menggiring bola, kita dituntut untuk mencari posisi sebaik mungkin, agar teman kita merasa mudah untuk mengoper bola, sehingga serangan menjadi efektif. Pada saat itulah kita belajar nilai kerjasama/teamwork dan saling pengertian.
  • nilai ke-3. Pada saat permainan aktif, ketika kita melihat pemain lawan sedang mengalami cedera, kita sepatutnya membuang bola ke luar lapangan pertandingan agar wasit menghentikan pertandingan untuk sementara dan memberikan kesempatan terhadap pemain tersebut untuk mendapatkan perawatan medis. Pada saat itulah kita belajar arti toleransi dan kemanusiaan.
  • nilai ke-4. Pada saat kita dilanggar pemain lawan, sekeras apapun pelanggaran itu, kita sepatutnya menerima uluran tangan lawan sebagai simbol permintaan maaf dan simpatinya. Pada saat itulah kita belajar arti kebesaran jiwa dan profesionalisme.
  • nilai ke-5. Dalam hal kompetisi antar negara, pada saat tim lawan akan mengumandangkan lagu kebangsaannya, alangkah baiknya kita berdiam sejenak, memberi kesempatan bagi mereka untuk menghayatinya. Pada saat itulah kita mendapatkan satu poin berharga tentang betapa pentingnya menghormati dan menghargai hak orang lain.
Taken from Google
Demikianlah setidaknya nilai-nilai yang dapat saya ambil. Ternyata segala aspek hidup ada di dalam sepak bola. Bagaimana kita menentukan target yang ingin kita capai, apa langkah dan strategi yang harus kita terapkan dalam usaha mencapai target tersebut, bagaimana menerima kegagalan dan menghadapi kesulitan sekaligus tantangan. Semua itu adalah hal-hal mendasar yang dapat kita latih dan pelajari dalam olahraga, termasuk sepak bola. Mental hidup juga bisa terasah di sini: disiplin, tanggung jawab, patuh terhadap otoritas dan peraturan, sportivitas, percaya diri, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, saya yakin dan percaya bahwa sepak bola bukan sekadar sebuah permainan yang menyehatkan sekaligus menghibur, tetapi juga a lessons of life, pelajaran mengenai hidup yang sesungguhnya. Saya pun bangga telah menjadikan sepak bola sebagai bagian dari hidup saya.


-dengan penuh penghayatan-

0 komentar:

Posting Komentar