19 Januari 2012
Terima Kasih
Ya, memang bukan tanpa alasan blog ini muncul. Berawal dari sebuah pertanyaan "ndak punya blog?", diiringi dengan ajakan "cepetan bikin..", akhirnya tangan ini bergerak. Lumayanlah untuk memproduktifkan status pengangguran ini.
Saya persembahkan sepasang kata di atas kepada sesosok ceria dengan segala kelebihannya; kembangbelimbing.blogspot.com.
Teriring selalu do'a yang sama setiap waktu, semoga skripsinya lancar.
Aamiin. . .
* * *
-Selasa Wage, 7 November 1989, 5.30 pm-
"Tiada kebahagiaan tanpa perjuangan"
Mendung memayungi salah satu desa di kaki Gunung Andong. Seperti layaknya sahabat, gerimis mengundang pun setia mengiringi. Memang pada bulan itu, wilayah Indonesia sedang mengalami musim penghujan. Apalagi menjelang akhir tahun, curah hujan sedang tinggi-tingginya.
Sementara itu di sebuah rumah di pinggir jalan raya,
terdapat sesosok wanita cantik. Sudah sekitar sembilan bulan ini beliau mengemban sebuah amanah dari Tuhannya di dalam rahimnya. Sebuah amanah yang pasti merupakan dambaan dari setiap pasangan yang hidup dalam jalinan sebuah pernikahan. Saat itu beliau tinggal bersama puteri satu-satunya dan seorang lagi yang biasa membantu apa yang bisa dibantu. Memang, pada waktu itu beliau hanya berkesempatan bertemu dengan suaminya setiap akhir pekan (itupun belum tentu) dikarenakan tuntutan pekerjaan suaminya. Suami beliau mengajar di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Demak. Bentang jarak yang sedemikian jauh rela mereka lakoni demi kebahagiaan keluarga atas nama cinta.
terdapat sesosok wanita cantik. Sudah sekitar sembilan bulan ini beliau mengemban sebuah amanah dari Tuhannya di dalam rahimnya. Sebuah amanah yang pasti merupakan dambaan dari setiap pasangan yang hidup dalam jalinan sebuah pernikahan. Saat itu beliau tinggal bersama puteri satu-satunya dan seorang lagi yang biasa membantu apa yang bisa dibantu. Memang, pada waktu itu beliau hanya berkesempatan bertemu dengan suaminya setiap akhir pekan (itupun belum tentu) dikarenakan tuntutan pekerjaan suaminya. Suami beliau mengajar di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Demak. Bentang jarak yang sedemikian jauh rela mereka lakoni demi kebahagiaan keluarga atas nama cinta.
Seperti orang mengandung pada umumnya, lebih-lebih memasuki bulan ke sembilan, kontraksi rahim sudah sering terjadi. Akan tetapi kali ini berbeda. Kontraksinya tidak seperti biasanya, disebutnya "persen" (huruf e yg kedua dikasih tanda 'pepet', pen). Biasanya hal ini adalah pertanda seorang wanita akan melahirkan.
Merasakan pertanda ini, si Ibu langsung mengajak tetangga yang sudah dianggap sebagai keluarga, untuk berkonsultasi ke bidan desa. Dalam situasi yang membutuhkan kesigapan dan kecepatan, becak menjadi pilihan utama untuk menuju ke rumah bidan itu. Berangkatlah sang Ibu ditemani tetangga itu, sementara satu tetangga lagi berinisiatif menemani dengan becak di belakangnya. Entah perasaan seperti apa yang dirasakan Ibu tersebut. Bahagiakah? Cemaskah? Ataukah kombinasi keduanya?
Sampailah mereka di sebuah rumah sederhana. Bu Tin, demikian sang pemilik rumah akrab disapa. Beliau adalah bidan desa yang cukup termasyhur karena kecakapannya dalam menangani masalah persalinan. Sekian menit si Ibu diperiksa, tak diduga tak dinyana, bidan tersebut angkat tangan. Sungsang, kata beliau. Dengan peralatan yang seadanya, beliau tidak berani mengambil risiko terkait hal ini. Si Ibu lantas direkomendasikan untuk di bawa ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Ah, rencana Alloh memang begitu indah. Di rumah bidan tersebut, si Ibu bertemu dengan kenalannya sesama guru SMA. Bu Sakinatun namanya. Beliau adalah istri dari Bapak Hadi Supeno, yang sekarang menjadi Wakil Bupati Banjarnegara dan juga Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (Profil lengkap Bapak Hadi Supeno dapat dilihat di sini). Kebetulan Bu Sakinatun baru saja melahirkan seorang putri, hanya terpaut beberapa hari atau mungkin beberapa jam dengan kedatangan si Ibu.
Diantarlah si Ibu oleh Pak Hadi Supeno menggunakan mobilnya. Aneh bin ajaib, begitu kira-kira ungkapan yang pantas untuk menggambarkan kondisi ini. Posisi janin yang awalnya sungsang, sesampai di Puskesmas dinyatakan normal. Kondisi tak bersebab, atau lebih tepatnya sulit diketahui sebabnya. Hemm.. Mungkin awalnya si janin guling-guling tidak terima ketika dinaikkan becak, dan seketika menjadi janin yang baik ketika dinaikkan ke mobil. (:p)
Waktu menunjukkan kira-kira pukul 18.00 WIB ketika janin keluar dari pertapaan sembilan bulannya. Sesosok mungil berkulit putih pun menyapa dunia diiringi tangisan keras nan merdu yang menentramkan hati. Persalinan ke-dua bagi si Ibu pun berjalan lancar dan normal, sebuah anugerah yang luar biasa melegakan mengingat sempat terancam bayang-bayang lahir sungsang. Si Ibu pun dipindah ke ruang pasien, dengan syukur alhamdulillah selalu mengiringinya.
Sekitar jam 10 malam, suami Si Ibu datang bersama putri pertamanya yang oleh si Ibu terpaksa ditinggal di rumah. Proses kelahiran yang tak terduga ini memang di luar jangkauan siapapun, sehingga suami si Ibu terpaksa tidak bisa menunggui dan menemani istrinya melewati detik-detik perjuangan yang demikian hebatnya lantaran posisi beliau yang saat itu masih di Demak. Kebahagiaan jelas terpancar di raut muka seorang lelaki kuat yang sebenarnya masih kelelahan setelah menempuh jauhnya perjalanan dari kota tempat kerja menuju desa tercinta.
Perasaan bahagia yang sungguh tidak mampu terbahasa, menghiasi lengkapnya anugerah yang telah didapat. Dua jagoan kecil kini ada di genggaman, menyempurnakan cinta yang selama ini terbina. Sekalipun esok belum tentu setiap waktu mereka dapat berkumpul bersama, tetapi setidaknya momen itu sejenak merampas seluruh alasan untuk tidak merasa bersuka cita.
Malam pun merangkum kisah mereka dalam hembusan-hembusan sang bayu, hingga menenggelamkan keceriaan di dalam peristirahatan hening. Alas selimut mendekap dua sosok beda usia yang terpulaskan di lantai bawah ranjang menemani si Ibu dan bayinya, seakan menyingkirkan semua kepedulian terhadap sapaan dingin yang terlalu biasa melingkupi desa itu. Sementara hujan masih saja setia memberi warna dalam kisah tak bercela, yang sekian puluh tahun mendatang akan selalu diingat oleh si mungil tak berdosa walau hanya dari sebuah cerita...
-dengan penuh penghayatan-

0 komentar:
Posting Komentar